04 December 2011

Selamat Jalan...

Benarkah? Hanya itu yang ada di benakku, saat ibuku membangunkanku di pagi buta hari itu, dan memberi tahuku kabar yang sama sekali tak ingin kudengar, dan kurasa hal itu amat sangat tidak mungkin. Aku masih sangat mengantuk, dan benar benar tidak rela untuk meninggalkan tempat tidurku. Tapi sungguh terlalu bila aku tidak bangun ketika mendengar kabar bahwa sepupuku meninggal. Ibuku memintaku ke rumah nenekku agar jika siapapun membutuhkan pertolongan, aku bisa membantu sebisaku, ibuku tidak bisa pergi kesana karena ia harus menjaga adikku yang kini masih berumur 1 tahun.

Aku bangun dan membersihkan diriku seadanya. Setelah itu aku bergegas ke rumah nenekku yang tidak begitu jauh dari rumahku, mungkin hanya berjarak sekitar 10 meter, tempat dimana jenazah Kak Bella hendak dibawa. Tapi ketika aku sampai disana, aku belum mendapati jenazah Kak Bella, dan aku duduk di bangku, hanya memandangi nenekku dan budeku, mondar-mandir entah untuk apa, aku hanya menunggu kalau-kalau mereka menginginkan aku membantu satu dua hal. Selama menunggu, aku merenung.

Aku benar-benar tak habis pikir jika ‘memang’ benar Kak Bella sudah tiada. Seharusnya aku bersedih, aku menangis, tapi entah mengapa aku tak melakukan hal itu, aku benar-benar berpikir bahwa aku harus bersedih, tapi tidak! Aku tidak menangis, sampai tidak lama kemudian, datang beberapa orang, dalam jumlah yang cukup banyak, tapi tidak banyak sekali. Mereka membawa jenazah Kak Bella dalam sebuah tempat, aku tak tahu apa namanya, yang pasti entah bagaimana caranya, Kak Bella sudah ada di lantai, beralaskan kain tebal, tubuhnya lemas, benar-benar kosong tatapannya, seketika aku merasa ngeri melihatnya, benarkah…… dalam sekejap kurasakan pipiku basah oleh air mata, dan dada ini sungguh begitu sesak.
***
Kak Bella merupakan salah satu dari ke-13 cucu nenekku. Ia berumur 19 tahun ketika meninggalkan dunia ini. Setelah lulus sekolah, Kak Bella langsung bekerja, pekerjaan yang ia miliki  sangat sederhana. Kak Bella sudah sakit-sakitan sejak ia masih kecil. Bahkan, diumurnya yang 19 tahun ini, Kak Bella belum mengalami menstruasi, belum mengalami masa pubertas. Itulah sebabnya Kak Bella tidak seperti orang dewasa berumur 19 tahun pada umumnya. Ia begitu polos, dan belum memiliki pikiran yang seperti orang dewasa, Tidak ! Kak Bella tidak idiot, keterbelakangan mental atau apalah itu ! ia hanya belum menginjak masa dewasa, dan tidak pernah sampai akhir hayatnya.

Ia tumbuh di bawah asuhan orang tua yang tidak segan-segan menunjukkan pertengkaran yang terjadi di antara mereka kepada anak-anak mereka. Ayah Kak Bella merupakan orang yang suka main judi, dan ketika kalah atau tidak punya uang, Kak Bella sering menjadi sasaran kemarahan sang ayah. Kak Bella begitu tertekan dengan keadaan seperti itu, ia pun tak tahu harus bercerita kepada siapa, karena rumah mereka dengan rumah nenekku yang juga Tante Eva ikut tinggal di dalamnya berjarak sangat jauh. Hal itu lah yang kemudian membuatnya menjadi sakit-sakitan, bahkan sakit liver pun ia alami.

Kak Bella tinggal di rumah nenekku sejak ia mulai bekerja, karena lokasi tempat ia bekerja cukup dekat bila dicapai dari rumah nenekku. Sejak itulah aku cukup dekat dengannya, apalagi dengan Tante Eva, Kak Bella jadi memiliki banyak kesempatan untuk bercerita dengan Tante eva.

Awalnya Tante Eva tidak mengetahui soal penyakit Kak Bella, sampai ia menyadari bahwa ada kejanggalan yang terjadi pada diri Kak Bella, setiap habis makan, pasti Kak Bella pergi ke kamar mandi untuk buang air besar. Jika sehari ia makan 4 kali, maka 4 kali pula ia ke kamar mandi untuk buang air besar. Kemudian Tante Eva menghubungi ibu Kak Bella, dan jawaban yang ia dapat hanya “sudah biasa….” Sungguh terlalu memang, hal seperti itu dianggap remeh. Sampai akhirnya kak Bella benar-benar jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit.

Berbagai macam pengobatan dari yang alami sampai yang ilmiah sudah dicoba, namun Kak Bella tak kunjung membaik, seakan penyakit itu memang sudah menyatu dengan jiwanya. Makin hari pun badan Kak Bella terlihat semakin kurus. Selama kak Bella hidup dengan penyakit yang dideritanya , ia masih sanggup untuk bekerja dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Tapi ketika penyakit itu benar-benar sudah parah, Kak Bella sudah tidak sanggup melawannya, dan akhirnya ia pulang ke rumahnya, serta berhenti bekerja.
Makin hari pula penyakit Kak Bella semakin parah, bahkan perut dan bagian tubuhnya yang lain membesar, karena livernya pecah, itulah yang Tante Eva ceritakan padaku, aku tak tahu apa itu artinya. Menjelang 2 minggu sebelum kematiannya, Kak Bella selalu membicarakan hal yang tidak jelas dan melantur kepada Tante Eva, mungkin karena memang orang terdekatnya ialah Tante Eva. Hal melantur yang ia bicarakan antara lain seperti

“Tante, punya baju bayi bekas gak?” Tanya Kak Bella.
“Ada Bell, kenapa?” jawab Tante.
“Nanti kasih ke Ibu aku ya Tante, kan ada yang mau gantiin Bella”
Dan kalimat yang terakhir yang membuat Tante Eva benar-benar khawatir dan ingin menemui kak Bella adalah “Tante, kalo aku meninggal, Tante melawat ya..”

Semua kalimat-kalimat melantur itu Kak Bella ucapkan lewat pesan singkat (SMS), dan ketika mendapat kiriman kalimat terakhir itu, seketika Tante Eva menghubungi Kak Firdha, cucu nenekku yang lain, cucu tertua diantara cucu-cucu nenekku dan memintanya untuk menemani Tante Eva ke rumah Kak Bella. Tante Eva mengatakan bahwa ia ingin sekali ke rumah Kak Bella, saat itu hari sudah malam, tapi Tante Eva tidak menghiraukan udara dingin yang ada karena ia benar-benar memiliki keinginan yang mendalam untuk menemui Kak Bella.

Sesampainya disana, Tante Eva mendapati Kak Bella sedang duduk, atau tepatnya memaksakan diri untuk duduk, keadaannya sudah sangat menyedihkan. Tubuh kurus, sementara bagian perut membesar, Tante Eva menahan sesak di dada, dan ia berusaha sebisa mungkin agar tidak menangis, ia tidak ingin membebani Kak Bella.  “Sudah Bella, kamu tiduran saja, kondisi kamu tidak memungkinkan kamu untuk duduk”  begitu Tante Eva menyuruh Kak Bella. Kak Bella menurutinya dan ia terbaring.

“Tante, Allah tuh gak sayang ya sama Bella?” Tanya Kak Bella dengan begitu polos,atau mungkin karena ia memang tidak tahu harus berkata apalagi.
“Kok Bella ngomongnya begitu?” jawab Tante Eva.
“Habis, Bella minta sembuh tapi justru Bella makin diperparah sakitnya, Bella mau sembuh Tante..”
“Allah sayang sama Bella, mungkin ini jalan yang Allah pilih buat Bella, mungkin Allah membuat Bella seperti ini agar orangtua Bella sadar, agar ini nggak terjadi sama adik-adik Bella. Bella harus ikhlas nerima semuanya, rencana Allah pasti indah buat Bella”. Hanya itu yang bisa Tante Eva katakan kepada Bella, melihat bahwa keponakannya itu sama sekali belum ikhlas bila Allah memanggilnya ke alam berikutnya.
Setelah itu, Kak Bella terlihat berpikir, mungkin ia membenarkan perkataan Tante Eva dan mulai mengikhlaskan bila memang takdirnya sudah harus meninggalkan dunia ini.
***
Kemudian aku menyaksikan tetangga nenekku melepas pakaian yang Kak Bella pakai saat itu, menggunakan gunting, ia merobek baju itu, dan sebisa mungkin agar tidak begitu memberikan tekanan yang besar terhadap jenazah, tetangga itu meminta pertolonganku untuk menutupi Kak Bella, agar proses pelepasan baju itu tidak dilihat banyak orang, aku benar-benar tidak tahan memandang wajahnya, wajah Kak Bella, aku menitikkan air mata.

Tak lama kemudian, datang Tante Eva, baru saja ia sampai di depan pintu dengan muka yang merah padam dan bibir terkatup, sekejap ia histeris melihat Kak Bella terbaring lemas tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Bellaaa bangun Bella banguuuuunn, jangan tinggalin Tante Bellaaa….” Begitulah yang Tante Eva katakan, entah kepada siapa, ia benar-benar histeris. Kemudian Tante Eva menghampiri jenazah Kak Bella dan Tante Eva tak henti-hentinya mengucapkan kalimat yang intinya “kembalilah”, kalimat yang sama sekali tiada gunanya. Tante Eva memang merupakan salah satu orang terdekat Kak Bella, jadi wajar saja bila ia begitu histeris kehilangan Kak Bella. Tante Eva sempat pingsan, mungkin karena beliau benar-benar tidak kuat.
***
Sejak kunjungan Tante Eva malam itu, Kak Bella terus berusaha menghubungi Tante Eva, entah itu lewat pesan singkat, atau menelponnya. Tante Eva jarang sekali memiliki waktu untuk menjawab pesan singkat maupun telepon dari Kak Bella, ini dikarenakan pekerjaan Tante Eva, ia benar-benar sibuk di kantornya. Kak Bella terus meminta agar ia diizinkan untuk menginap di rumah nenekku, tapi tante Eva tidak mengizinkannya. Bukan karena Tante Eva tidak mau, tetapi tante Eva hanya memikirkan, siapa yang akan mengurusi Kak Bella disini? Di rumah nenekku hanya ada nenekku, kakak dari nenekku, dan anak Tante Eva yang masih kecil.

Sampai pada suatu pagi, Kak Bella menelepon ke rumah nenekku, dan nenekku yang mengangkat teleponnya.

“Nek, izinin Bella nginep di rumah nenek ya? Sehariiiii aja nek….”
“Yaudah, Bella boleh datang, tapi jangan siang ya nak… kan panas, datangnya sore aja” jawab nenekku.

Akhirnya Kak Bella pergi ke rumah nenekku, menggunakan taksi dan ditemani oleh ibunya sore hari. Entah ada dorongan apa yang membuat Kak Bella benar-benar ingin tinggal di rumah neneknya bahkan bila hanya sehari.

Tapi hal yang tak terduga terjadi. Di tengah-tengah perjalanan, Kak Bella tiba-tiba saja mengalami kejang-kejang. Ibu Kak Bella pun panik, dan langsung menghubungi Tante Eva yang saat itu sedang bekerja.

“Eva… gimana ni? Bella kejang-kejang, kakak lagi di jalan mau ke rumah mama” begitu yang dikatakan ibu Kak Bella di telepon.

“Kak, coba hubungi Kak Bunga atau Kak Dian, Eva lagi sibuk kerja” jawab Tante Eva, ia sebenarnya begitu khawatir, tapi pekerjaannya memang tidak bisa ditinggalkan, ia pun berpikir mungkin itu hanya merupakan kejang-kejang biasa.

Setelah ibu Kak Bella mendapat masukkan dari ibuku (Dian), ia membawa Kak Bella ke rumah sakit terdekat, beruntungnya, rumah sakit itu tidak begitu jauh dari rumah nenekku.

Berjam-jam Kak Bella berada dalam kamar rumah sakit. Banyak dokter yang berusaha menyelamatkan nyawanya. Ibu Kak Bella begitu cemas menanti putrinya di luar kamar. Tapi tak lama kemudian, takdir tak bisa dihindari, Kak Bella telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pada pagi harinya, sekitar pukul setengah 4, ibuku mengabari Tante Eva, tentang kepergian Kak Bella. Tante 
Eva saat itu sedang berada di rumah temannya, karena ia tadi lembur di kantornya, dan karena saat itu waktu menunjukkan pukul 2 pagi, Tante memutuskan untuk menginap di rumah temannya. Baru saja terlelap sebentar, mendapat kabar  demikian, Tante Eva langsung panik dan buru-buru berganti pakaian, serta bergegas pulang.

Ketika sampai di halte busway yang terakhir untuk mencapai rumah nenekku, Tante Eva mendengar suara ambulans. Hatinya getir dan berkata “itu Bella….”. memikirkan tentang kebenaran hal itu, kaki Tante Eva lemas, ia benar-benar sesak, dan tak sabar lagi untuk segera sampai, ia berjalan dengan cepat menuju rumah nenekku. Tak lama menjelang kedatangan jenazah Kak Bella, Tante Eva pun datang.
***
Setelah menjalani berbagai macam proses, akhirnya sampai pada tahap dimana jenazah Kak Bella akan dikafankan, setelah terkafankan dengan rapi, si ibu yang mengurusi jenazah Kak Bella bertanya pada kami, keluarga besar Kak Bella, apakah ada diantara kami yang ingin mengucapkan kalimat terakhir untuk Kak Bella.

“Bella, Tante minta maaf ya kalo tante punya salah sama Bella..” begitulah yang dibisikkan Tante kepada jenazah Kak Bella. Sebelum Tante Eva, orang tua Kak Bella sudah melakukannya terlebih dahulu. Tak lama kemudian setelah Tante Eva membisikkan kalimat tersebut, setetes air mata mengalir dari mata Kak Bella ! kalian boleh saja tidak percaya, tapi itu memang benar-benar terjadi, seketika dada Tante begitu sesak,,rasanya ia ingin sekali menangis dan menunjukkan pada dunia bahwa ia sungguh tak rela Kak Bella harus pergi, tapi ia tahu, hal itulah yang membuat jenazah Kak Bella meneteskan air mata, karena tak lama setelah itu, ibu yang mengkafani jenazah Kak Bella berkata “Udah ya, tolong diikhlasin, jangan buat Bellanya sendiri ngerasa berat buat pergi, jangan dibebanin Bellanya..”

Sampailah pada tahap dimana jenazah Kak Bella akan dikuburkan, melihat prosesnya, aku sungguh tak henti-hentinya menahan tangis. Aku membayangkan Kak Bella tertidur di bawah sana, dan sungguh mengerikan mengetahui bahwa ia akan berteman dengan hewan tanah yang akan menggerogoti raganya, oh Tuhan! Bagaimana jika tiba-tiba Kak Bella terbangun? Bagaimana jika Kak Bella sebenarnya belum mati? Dan ketika ia terbangun, siapa yang akan membantunya keluar dari sana? Aku tahu aku konyol berpikir demikian, tapi memang begitu yang kupikirkan, bahkan sempat terlintas di benakku untuk meminta orang-orang menghentikan proses ini dan memberi Kak Bella sedikit waktu untuk tersadar dan kembali hadir di tengah-tengah kami semua.

Selamat jalan Kak Bella, semoga kak Bella nyaman ya disana.. semoga Kak Bella bertemu Papa di surga ya…
***
Ayah Kak Bella kini sudah mulai berubah, sudah mulai mengurangi judinya, begitupun ibunya, kini ia menjadi ibu yang peka terhadap hal yang terjadi pada sang anak, pada adik-adik Kak Bella.
Dua minggu telah berlalu sejak kepergian Kak Bella, saat ini aku sedang berada di rumah nenekku dan berbincang-bincang dengan Tante Eva.

“Tante, kemarin aku mimpi ketemu Kak Bella”
“Oh Ya? Tante cuma pengen tahu, apa dalam mimpi kamu Kak Bella tersenyum? Apa dia ngomong sesuatu sama kamu?” jawab Tante Eva merespon pembicaraanku.
“Bener Tante, Kak Bella nggak ngomong apa-apa” sahutku dengan ekspresi murung, kemudian aku melanjutkan kata-kataku
“Tapi Kak Bella tersenyum Tante..”
“Bagus deh, itu artinya Kak Bella seneng disana” ucap Tante Eva sambil tersenyum
“Iya Tan? Kalo begitu bagus ya tan, dan mudah-mudahan aja bener” jawabku sambil membalas senyum Tante.

“TIDAK ADA YANG BENAR-BENAR ABADI DI DUNIA INI, MAKA GUNAKANLAH KESEMPATAN YANG ADA SEKECIL APAPUN ITU. SAYANGI MEREKA YANG ADA DI SEKITARMU, KARENA SIAPA YANG AKAN TAHU BAHWA MAUT AKAN MENJEMPUT MEREKA KEESOKKAN HARI, ATAU MUNGKIN MENJEMPUTMU”
READMORE - Selamat Jalan...