25 July 2011

Doa Terakhirku



Gerimis turun bergantian. Semilir angin memetik bunga kamboja, menjatuhkannya di kepalaku seiring dengan kibasan sayap kupu-kupu yang kemudian hinggap di bahuku.

Warna hitam mendominasi pakaian yang dikenakan mayoritas orang.

Seperti sebuah elegi yang selalu bernuansa hitam menerjemahkan duka, beberapa orang terlihat menangis deras. Kami membentuk lingkaran mengelilingi pusara, membuatku mudah mengenali wajah-wajah mereka dengan jelas. Tunggu, siapa perempuan yang menghadap nisan itu? Penggungnya berguncang…

Astaga, apa itu tadi?
Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh dan menguasaiku seketika. Ia membangunkan bulu kudukku. Mengalir bersama darah dan menggolakannya, berdetak bersama jantung dan mempercepat ritmenya.
Tiba-tiba pikiranku meluncur pada Rangga yang tengah terbaring lemah di rumah sakit Hasan Sadikin akibat dari penyakit leukimia yang dideritanya. Apa jangan-jangan ini adalah peringatan pemakaman Rangga yang akan segera terjadi? Karena… dari semua orang yang kulihat di pemakaman itu, tak kulihat Rangga di sana …

“Atos dugi, Neng,” kata supir taxi yang ku taksir usianya nyaris setengah abad.
“Oh, muhun, Pak. Ieu artos na,” jawabku sambil merogoh uang Rp.20.000 dari saku seragam.
“Eh, eta keresek kakantun, Neng!” katanya mengingatkanku yang sudah melangkah meninggalkan taxi.
“Eh, tuh nya, hilap, hatur nuhun, Pak. Mangga.”

Kalau bukan karena Rangga yang sedang dirawat, aku malas untuk berkunjung ke rumah sakit. Aroma beragam jenis obat yang khas slalu menyerang indra penciumanku ketika kulangkahkan kaki dipintu masuk. Belum lagi raut wajah orang yang berseliweran selalu terlihat redup. Kedua hal itu membuat rumah sakit terasa sangat menyeramkan bagiku.

Aku sampai di kamar inap Rangga. Kudapati ia tengah tertidur pulas dan mendengkur. Hati-hati, ku tarik kursi ke samping ranjang dan mendudukinya. Kemudian ku ambil setangkai mawar yang tadi sempat ku beli dari kumpulan kios penjual bunga di Wastu Kencana dan menaruhnya di atas meja di samping ranjang.
Lalu Rangga menggeliat bangun. Ia menebarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

“Oops… Maaf aku membangunkanmu. Aku berisik ya?”
“Ngga kok, aku hanya mencium wangi bunga mawar, Des… Hehe, kamu sudah lama datang?” tanyanya diiringi seutas senyuman dari wajah tampannya yang terlihat pucat.
“Belum lama, mungkin baru tiga menit. Bagaimana kabarmu? Udah baikan?”
“Yah, alhamdulilah. Sejauh ini Tuhan masih memberikan aku waktu, nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.”

Oh Tuhan, hatiku tersayat mendengarnya.

“Hidup dan mati itu rahasia Tuhan. Kamu nggak boleh begitu saja berserah diri, kamu harus berusaha dulu untuk dapat bertahan hidup.”
“Memangnya apa yang bisa aku lakukan?”
“Kamu bisa berdoa. Kamu masih punya Tuhan untuk temanmu berkeluh kesah.”
“Aku ragu, apakah Tuhan masih bisa mendengar doaku dari dalam mimpi? Belakangan ini aku menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Aku bahkan nggak bisa sembahyang, Des.”
“Rangga, terserah kamu mau tidur selama apapun. Tapi ingat, Tuhan ngga ikutan tidur. Dia akan slalu dengar doa umatnya, kapan pun, di mana pun…”
“Terkadang kalo aku lagi tidur, aku takut aku nggak akan pernah terbangun lagi,” tuturnya seraya mencoba tertawa untuk mencairkan suasana.
“Simpel saja, seandainya aku mengalami itu, maksudku tertidur tanpa terbangun lagi, aku hanya akan meminta satu hal pada Tuhan.”
“Apa itu, Des?” Tanya Rangga penasaran.
“Aku akan meminta Tuhan untuk mengubahku menjadi bunga mawar. Agar aku berhasil memastikan bahwa kamu hanya tertidur. Karena waktu mencium wangi bunga mawar, selelap apa pun tidurmu, pasti akan terbangun. Haha!”

“Hai, semuanya!” Teriak Frina ceria, meramaikan suasana, memotong percakapan kami. Parfumnya tercium semenjak ia menerobos masuk ke dalam. High heelsnya menghasilkan irama di setiap langkahnya. Ia menghampiri Rangga, mencium pipi dan mengusap keningnya. O’ow ciuman di pipi itu meledakkan bom di hatiku seketika.

Kenapa sih aku harus mencintai seseorang milik orang lain? Hatiku ini memang bisanya hanya merepotkan saja! Percayalah, tidak ada yang lebih menyedihkan dari sebuah rasa cinta yang terlarang tuk diungkapkan. Tapi rasa cinta itu sendiri pun tak bisa dienyahkan, sungguh tidak adil rasanya.

“Gimana kabarnya, Sayang?” tanya Frina sambil mengikat rambut panjangnya.
“Yah, seperti yang kamu lihat, belum ada kemajuan,” jawab Rangga sedih, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Kamu darimana sih? Kok rapi banget?”
“Aku abis dari birthday party nya asisten dosenku, Ga. Tadinya sih aku nggak akan dateng, biar aku bisa menemani kamu di sini. Tapi kupikir lebih baik aku datang, karna aku sama dia sudah deket banget sih.”
“Perginya sama… Alvie?” tanya Rangga hati-hati. Mata Frina membelalak. Ia membuat jeda dan berpikir, “Hm? i.. iya… sama Defrina sama Siska juga kok, eh udah lama disini, Des?” tutur Frina berniat mengalihkan pembicaraan padaku.

Aku yang ditanya buru-buru melenyapkan imajinasi sebuah adegan yang ku bayangkan dimana aku sedang mencium pipi Rangga.
“Ah? Hmm… Belom kok, Na. Eh kamu mau kemana sih pake baju bagus gitu?”
“Eh si Neng, kan barusan udah cerita, aku abis dari birthday party nya temen. Dasar kamu mah… Hahahaha,” tuturnya sambil tertawa.

Entah lelucon itu memang garing, atau memang menyinggungku, aku sama sekali tak ingin tertawa. Aku terlalu sibuk memadamkan api cemburu yang mulai merayap ke ubun-ubun. Alhasil hatiku habis, hangus terbakar. Seandainya ada seseorang yang bersedia menadah serpihan abu dan memahatnya kembali menjadi utuh, pastilah aku akan berpaling dari Rangga untuk mencintainya.

Nama cowok yang di tanyakan Rangga tadi menguap begitu saja, seolah Frina membuatnya tabu untuk di bicarakan.

Lalu sesuatu tiba-tiba mengejutkanku. Ilusi tentang pemakaman yang ku saksikan di perjalanan menuju kemari menyeruak diantara aktivitas jutaan sel yang tengah sibuk berkoneksi di dalam otak. Kupikir Frina harus mengetahui mengenai hal itu…

“Na, temani aku ngopi di cafetaria yuk?”
“Mm, boleh deh, bentar ya, Sayang.” pamit Frina.
Kami berdua meninggalkan ruangan dan segera saja berbaur dengan gemuruh suara puluhan manusia yang bergema ke seluruh penjuru kantin.
“Na, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu,” tuturku hati-hati.
“Ngomong aja, Des,” jawab Frina searaya meneguk kopi susunya.
“Tadi saat perjalanan kemari, aku seperti melihat sign… pemakaman… Rangga.”
Wajah Frina memucat di ujung kalimatku. Tatapan matanya menancap mataku dalam dan bertanya, “Maksud kamu?”
“I… iya, kamu tahu kan , kalo bakat six sense aku udah banyak kebuktian? Ingat waktu rumah Om Frans dan tante Gyna yang di Rancaekek mau terbakar tahun lalu? Aku sempat mencegahnya, kan ?”
“Jadi… kamu berharap Rangga akan mati?”
“Bukan! Bukan gitu maksud aku, Na… Aku hanya, hanya… memberitahumu apa yang kulihat.”
“Dengar ya, Des! Dari dulu aku nggak percaya sama bakat six sense kamu yang omong kosong itu, mungkin saja kasus rumah tante Gyna itu cuma kebetulan! Dan jujur Des… aku kecewa banget sama argumentasi kamu mengenai pemakaman Rangga itu!” bentak Frina.
“Na, apapun akan aku pertaruhkan untuk menjamin kalo penglihatan aku itu nggak akan benar-benar terjadi! Kamu pikir kematian Rangga itu sesuatu yang kutunggu-tunggu apa? Hah?”
“Sudahlah, Des. Aku takut ngomong sama kamu. Selama ini kita sahabatan tapi kamu nggak pernah bisa menghargai perasaan aku. Seharusnya kamu tahu, kalo pernyataan kamu itu bisa bikin aku sakit hati tahu nggak? Aku takut, Des!”
“Na, tujuanku cum-”
“Halah, sudah lah, Des!” bentak Frina sambil berdiri dan beranjak pergi. Untung aku sempat menarik lengannya, dan berkata, “Please, Na… kamu salah paham.”
Frina menepisnya, ia mengambil beberapa langkah ke depan dan berbalik, “Satu lagi, Des. Jangan pernah kamu jengukin Rangga lagi! Aku nggak mau kamu jadi malapetaka buat dia!” Tuturnya geram, meninggalkan aku serta percikan air mata yang terisak menangisi bayangannya yang perlahan menjauh.

Aku pulang dengan perasaan galau. Perkataan terakhir Frina bersorak meramaikan pikiranku, berdenyut di dalam hati. Menusuk ke setiap pori-pori kulit, menimbulkan rasa nyeri yang tak terperi.

“Halo, Sayang… Malem minggu kok sedih? Kenapa?” tanya mama lembut sambil menghampiriku yang meringkuk malas di atas tempat tidur.
“Nggak kok, Ma… Desti nggak sedih.”
Mama mengambil napas panjang dan berkata, “Ya udah kalo nggak mau cerita, tapi kamu nggak boleh sedih lagi, ya?” Ia mengusap lembut kepala dan mencium keningku. Mama memang masih memperlakukanku seperti gadis kecilnya yang rapuh, bukan gadis belia berumur tujuh belas tahun yang sudah mandiri. Tapi hal itu justru membuatku bingung, harus kubalas dengan apa semua kasihnya yang tanpa pamrih itu? Tak ada hal setara yang mampu menggantikannya.

“Eh, Ma…” panggilku.
“Iya, Sayang? Ada apa?”
“Mm… Boleh ngga malam ini Desti menginap di rumah sakit menemani Rangga?”
“Lho, memang bu Kartika kemana?”
“Mamanya Rangga kan lagi ada di Garut dan baru pulang besok pagi. Boleh ya, Ma?” Pintaku memohon dengan memasang muka memelas. Mama terlihat berpikir, “Lagipula kan sekarang malam minggu, Ma… Ya, ya, ya?” lanjutku dengan memaksa.
“Yahh… apa sih yang nggak buat kamu? Tapi pergi nya dianter sama Pak Lukman ya?”
“Oke deeh!”
“Ya udah kamu makan malem dulu gih, abis itu ganti baju pakai piyama, biar lebih nyaman. Titip salam buat Rangga ya, Des.”

Sepanjang perjalanan rasa cemas berhasil mengelabuiku. Aduh, bagaimana kalau nanti aku bertemu Frina di sana ? Apa yang harus kukatakan? Melihat sikapnya yang kasar padaku sore tadi membuatku segan untuk bertemu dengannya.

Akhirnya aku sampai dikamar inap Rangga. Tanpa mengetuk terlebih dahulu aku memutar knop pintu dan mendapati Rangga tak ada di tempat tidur. Jantungku nyaris meledak. Di kamar mandi juga tidak ada. Tapi pintu balkon terbuka, secepat kilat aku menghampirinya dan… astaga! Demi Tuhan pencipta alam semesta, betapa terkejutnya aku melihat posisi Rangga yang telah berdiri mencoba untuk melompat ke bawah.
Rangga!” teriakku nyaring berusaha menghentikan niat buruknya.
Seperti tersambar petir, ia terkejut mendapati kedatanganku. Kontan ia menatapku dengan tatapannya yang menghujam dan berkata, “Biarin aku pergi, Des… Aku udah nggak kuat lagi menahan semuanya, aku nyerah, Des!”
“Nggak! Kamu nggak boleh menyerah, Rangga! Hentikan semua ini!”
Seandainya ia tahu, bahwa aku disini rela mengorbankan apapun agar ia mampu bertahan, tapi mengapa dengan mudahnya ia menyia-nyiakan perjuanganku?

Aku berlari dan memeluknya erat. Kutarik tubuhnya hingga kami berdua tersungkur ke lantai nyaris menabrak dinding.
“Please jangan pernah kamu lakukan itu lagi.”
“Kenapa, Des?”
“Karena…” jawabku sambil terisak. Kupikir aku harus menyatakan cintaku padanya sekarang. Karena tak ada yang dapat menjamin bahwa aku masih memiliki cukup waktu untuk mengutarakannya.
“Karena aku cinta sama kamu, Ga. Aku nggak mau kehilangan kamu, please… Aku minta kamu untuk bertahan, Rangga…”

Perlahan, ia melingkarkan tangannya di tubuhku. Tangisanku pecah didalam pelukannya.
Mendadak suasana disekelilingku menjadi mengharu biru. Udara dingin dengan lancang menggerayangi tubuh, membuat kami tetap berpelukan setelah tersungkur dilantai dekat pintu balkon. Detak jantungku yang memburu mulai mereda seiring dengan belaian Rangga yang menghangatkan nyaris seluruh jiwa, membebaskan percikan asmara yang telah lama terbelenggu di dalam dada.

“Desti?” seseorang memanggilku. Ku rasakan tubuh Rangga membeku. Tubuhku juga. Ketika ku palingkan mata pada pintu balkon, ku lihat Frina tengah menelanjangi kami dengan tatapan matanya yang tajam dan mencekam. Sedetik kemudian ia berlari meninggalkan kami.
“Frina!” panggilku setengah menjerit. Aku bergegas mengejarnya, tapi Rangga mencegahku.
“Biarin aja, Des. Memang ini yang selama ini ia tunggu-tunggu. Ia menantikan sebuah alasan untuk lepas dariku, lagipula perempuan mana yang mau bersanding dengan lelaki penyakitan sepertiku?”
***

…lalu siapa perempuan yang menghadap nisan itu? Penggungnya berguncang, ingin aku menghampirinya. Kupikir sebuah pelukan bisa redakan setidaknya sedikit kalut dan kesedihan. Tetapi, baru selangkah, seseorang menepuk pundakku.

Mama menepuk pundakku.

“Bangun, Sayang… Udah pagi.”
Aku terperanjat. Kukerjapkan mata berulang kali. Kepalaku masih berlabuh dilengan Rangga yang masih tertidur pulas. Lalu aku memandang mama yang tengah tersenyum hangat padaku.
“Pulang dulu gih. Mandi, makan, terus siap-siap, hari ini kan kamu ada les biola? Nanti sore kamu boleh kembali lagi kemari.”

Tidak semua kalimat mama dapat kucerna dengan baik. Persetan dengan les biola, aku hanya ingin tahu, siapa yang memutar acara pemakaman itu berulang kali didalam otakku? Meskipun hanya mimpi, tapi semua itu terasa benar-benar nyata.

“Desti…?” panggil mama menyadarkanku.
“Eh, apa Ma?”
“Kamu dengar mama kan , Sayang?”
“I… iya.”
“Selamat pagi, Desti.” Sapa Rangga lembut, tentu dengan senyum andalannya. Hatiku getir, bertanya-tanya, berapa lama lagi waktu yang ku miliki untuk menikmati senyum termanis yang dimilikinya?
“Pagi,” jawabku sambil membalas senyumannya. “Aku pulang dulu ya, Ga? Hari ini aku ada les biola.”
“Kapan kamu kembali kemari?”
“Nanti sore, aku janji. Ayo, Ma?” ajakku seraya melemparkan pandanganku pada mama.
“Nggak, mama janjian ketemuan sama bu Kartika disini, Sayang. Kamu pulang diantar pak Lukman aja.”
“Ya udah deh, dadah Mama. Titip salam buat mamanya Rangga ya, Ma.”

Aku melangkah dengan perasaan yang tidak karuan. Diantara kegelisahan yang membabi buta, terbit juga sebersit perasaan bahagia. Untuk pertama kalinya aku terlelap disamping pujaan hatiku. Bahkan telah kulantunkan juga perasaan yang selama ini terpendam dihati. Sulit untuk mempercayainya. Semuanya terasa lebih ringan ketika kupastikan Rangga tahu perasaanku padanya.

Seutas senyuman terlukis diwajahku. Perasaan senang ini seolah membawaku bertamasya ke langit ke tujuh, menari diatas awan dan bersenandung dipangkuan pelangi.
Namun bayangan Frina membuatku terbanting kembali ke permukaan bumi. Rasa bersalah dengan garang menyerangku. Lewat pantulan cermin kasir yang kulewati, aku melihat seorang gadis berwajah iblis, yang mencuri cinta mati milik sahabat sejati…

Mobilku membelah jalanan kota Bandung di pagi yang cerah. Tidak banyak kendaraan yang berseliweran di jembatan Pasopati. Hanya beberapa saja, bahkan bisa kuhitung dengan jari.
Aku menengok mentari yang menyumbul dan melukis wajah Rangga disana dari balik jendela.
Tiba-tiba saja sebuah mobil dari arah berlawanan menghantam mobilku keras sekali. Suaranya terdengar seperti bom, rasa sakit menohokku seketika. Tanpa mampu bergeser sedikit atau bahkan menjerit, pecahan kaca telah menusuk nyaris seluruh bagian wajah. Tubuhku tertimpa mobil yang terguling dan sedetik kemudian bau amis menyerang dari percikan air berwarna merah segar. Astaga, itu darah. Lalu semuanya gelap.
Ternyata aku tak mampu menepati janjiku untuk kembali menengok Rangga sore ini, karena entah mengapa aku berada disini.

Gerimis turun bergantian. Semilir angin memetik bunga kamboja, menjatuhkannya di kepalaku seiring dengan kibasan sayap kupu-kupu yang kemudian hinggap di bahuku.

Warna hitam mendominasi pakaian yang dikenakan mayoritas orang.

Seperti sebuah elegi yang selalu bernuansa hitam menerjemahkan duka, beberapa orang terlihat menangis deras. Kami membentuk lingkaran mengelilingi pusara, membuatku bisa dengan mudah mengenali wajah-wajah mereka dengan jelas. Tunggu, siapa perempuan yang menghadap nisan itu? Penggungnya berguncang. Ingin aku menghampirinya. Kupikir sebuah pelukan bisa redakan setidaknya sedikit kalut dan kesedihan. Tetapi, baru selangkah, seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan mendapati dia yang berjubah putih di antara sekumpulan orang berpakaian serba hitam. Aku menatapnya heran. Tanpa permisi ia menggenggam lenganku erat dan seperti mau membawaku pergi dari situ. Aku menepis tangan dinginnya dan beralih memunggunginya. Saat itu juga perempuan tadi berbalik beranjak pergi. Oh perempuan itu adalah mama, tapi mengapa mama yang paling histeris atas kematian Rangga? Kecurigaan dan ketakutanku memuncak, membuatku menghampiri nisan untuk memastikan apa yang tersurat diatasnya.

Desti Larasati
Binti Aryo Wicaksono
Lahir 15 Mei 1992
Wafat 26 September 2009

Tanpa mampu mengelak barang sedetik saja, tangan dingin tadi telah membawaku pergi jauh dari situ.
Setidaknya aku pergi dengan kedamaian. Tapi seandainya malam itu tak kunyatakan perasaanku pada Rangga, aku tak tahu…
***

Rasanya seperti tertidur lama.
Mama menggenggamku erat dan bersamanya ku telusuri lorong-lorong rumah sakit. Tidak lama, kami sampai dikamar inap rangga. Mama menidurkanku di meja sebelah ranjang. Sulit menyesuaikan diri dengan tubuh baruku ini. Sebuah tangkai yang kaku tanpa tangan dan kaki, yang dilengkapi mahkota berbentuk kelopak mawar berwarna merah. Semuanya terasa sangat asing bagiku.

Aku memandang takjub Rangga yang tertidur pulas. Perlahan kusebarkan aroma khas ke sekeliling ruangan, agar Rangga bisa ikut menghirupnya. Hanya perlu sepersekian menit untuk membuatnya menggeliat dan terbangun.

Akhirnya, aku menyelesaikan tugas terakhirku, untuk memastikan bahwa ia
hanya tertidur.
Terimakasih Tuhan, Engkau mengabulkan doa terakhirku.
***

“Simpel saja, seandainya aku mengalami itu, maksudku tertidur tanpa bangun lagi, aku hanya akan meminta satu hal pada Tuhan.”
“Apa itu, Des?” Tanya Rangga penasaran.
“Aku akan meminta Tuhan untuk mengubahku jadi bunga mawar. Agar aku berhasil memastikan bahwa kamu hanya tertidur. Karena waktu mencium wangi bunga mawar, selelap apapun tidurmu, pasti akan terbangun. Haha!”

No comments:

Post a Comment